WELCOME TO MY BLOG ; VICTOR DANY YANENGGA"

Sabtu, 14 Februari 2015

“ANGIN KURIMA BERHEMBUS, MEMBUAT LEMBAHKU BERGOYANG. PUNCAK GUNUNGMU OH TRIKORA, MEMBUAT MATAKU TAK BERKEDIP.”

Siapa pun yang pernah ke Wamena, akan dibuat berdecak kagum dengan pesona alamnya. Sampai-sampai “membuat mataku tak berkedip”. Wamena, sepenggal keajaiban alam yang Tuhan titipkan untuk kita, dengan seperangkat keindahannya. Kita memang tak punya hamparan laut. Karena letak geografisnya di tengah lembah. Namun, Tuhan tetap memberikan kita kesempatan untuk bisa merasakan suasana pantai berpasir putih. Berkunjunglah ke objek wisata Pasir Putih, satu fenomena alam langka yang ada di dunia. Ingin melihat mumi? Tak perlu jauh-jauh ke Mesir sana. Pergi saja ke Kurulu. Kalau hendak menikmati pesona savana seperti di Afrika, Wamena juga punya. Sesekali susuri jalan Wamena – Walesi. Sepanjang jalan, mata dimanjakan dengan hamparan padang rumput yang bagaikan permadani hijau membentang. Ada juga Danau Habema, Puncak Jayawijaya dengan salju abadinya. Segala rupa keindahan alam itu lengkap di Wamena.

Ini adalah karunia Tuhan yang tidak diberikan kepada semua tempat. Sehingga menjadi tanggung jawab kita untuk mengelolanya dan menjaganya. Terenyuh rasanya bila melihat objek wisata Wamena yang tak seindah masa lampau. Pasir putih tak seputih dulu lagi. Belantara hutan, tidak selebat sepuluh tahun silam. Sungai-sungai, mulai mengeruh airnya. Akibat penambangan pasir dan batu yang kian marak. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat, mulai tergerus arus modernisasi.
Seindah apapun alam Wamena, bila tidak dikelola dengan profesional, semuanya sia-sia belaka. Wamena, bagaikan mutiara yang terpendam. Seindah dan sejelita apapun mutiara itu, bila ia hanya terpendam di kedalaman laut, tidak akan berarti. Tidak akan dilirik. Mutiara, baru akan berarti dan bernilai jual tinggi bila ia diangkat ke permukaan dan ditempatkan rapi di etalase toko perhiasan.

Kita masih harus banyak berbenah, bila berbicara mengenai pengelolaan pariwisata. Setiap tindakan pasti punya konsekuensi. Ingin memajukan pariwisata, konsekuensinya harus berinvestasi yang tidak sedikit. Dan ini bukan seperti proyek pembangunan fisik yang hasilnya bisa terlihat segera. Hari ini kita berbuat, jangan harap esok hari hasilnya sudah tampak. Mungkin perlu masa sepuluh atau dua puluh tahun, untuk memanen hasil yang dirintis hari ini. Wamena tidak akan maju di tangan orang-orang yang selalu berorientasi keuntungan materi, sibuk memoles citra diri untuk mengamankan singgasana kekuasannya. Jadi selain jangka waktu lama, perlu juga orang-orang yang punya jiwa pengabdian, rela bekerja ikhlas memajukan Wamena, khsuusnya sektor pariwisata.
Memang terkesan terlambat, bila hari ini kita baru berpikir untuk mengabarkan pada dunia, bahwa di jantung Papua ada lembah yang mempesona, bernama Wamena. Tapi seperti kata orang-orang bijak, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Lewat tulisan ini, penulis ingin memberikan sedikit buah pikir, sebagai konstribusi sederhana membangun Wamena. Setidaknya ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk bersegera memajukan pembangunan pariwisata di Wamena.

Perlu Penelitian dan Pengkajian

Mengembangkan pariwisata adalah program jangka panjang, sehingga memerlukan rencana strategis yang rapi. Jangan harap, pesona Wamena bisa dikenal semesta dunia, bila masih menggunakan “Manajemen Reaktif”. Tiba masa, tiba akal. Tidak ada perencanaan matang. Untuk itu pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata, bisa membuat sebuah inovasi. Kini di Wamena, sudah menjamur Perguruan TInggi. Dalam melaksanakan fungsinya, Perguruan TInggi harus melakukan tiga aktivitas utama, yaitu: pendidikan, peneltian dan pengabdian masyarakat. Potensi Perguruan TInggi sebagai pengkajian dan penelitian ini, belum termanfaatkan maksimal. Padahal di Perguruan TInggi, banyak intelektual yang siap memberikan tawaran konsep yang inovatif. Apalagi Perguruan Tinggi yang profesional pasti memiliki devisi khusus yang bertugas melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat, sesuai kompetensi keilmuannya. Amat disayangkan jika potensi ini tidak pernah dilirik.

Dalam penetapan berbagai kebijakan publik misalnya, pemerintah daerah masih kurang memanfaatkan potensi Perguruan Tinggi sebagai penyumbang ide dan penggagas konsep. Banyak ide-ide cerdas yang ingin disuarakan oleh intelektual kampus. Tapi mungin karena kurangnya forum bersama antara pemerintah dan Perguruan Tinggi, akhirnya ide para intelektual terpendam begitu saja. Terkhusus untuk pengembangan pariwisata, tentu sebuah langkah maju, bila mengajak para intelektual Perguruan TInggi dan pemangku kebijakan untuk duduk bersama. Merumuskan rencana strategis dan taktis, tentang pengembangan pariwisata di lembah nan indah ini.

Promosi Harga Mati

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah gencarkan promosi. Seindah apapun Wamena, bila tidak dikabarkan kepada dunia, tidak akan ada yang perduli. Maka promosi menjadi hal yang niscaya. Aspek promosi ini yang belum efektif. Memang ada acara tahunan seperti Festival Lembah Baliem. Tapi itu masih terlalu sedikit jika menginginkan pariwisata Wamena dilirik dunia. Ambil misal saja, contoh yang paling sederhana, pemanfaatan dunia maya (baca: internet) untuk mempromosikan pariwisata Wamena, belumlah maksimal. Sejauh pengamatan penulis, belum ada situs resmi pemerintah yang khusus mempromosikan pariwisata Wamena. Padahal internet adalah saluran promosi yang efektif dan relatif murah. Ada 1,86 miliar penduduk bumi yang aktif menggunakan internet. Ini adalah peluang pasar yang menjanjikan.

Jangankan Wamena, untuk skala nasional secara umum, promosi pariwisata masih setengah hati. Padahal apa yang kurang dari Indonesia untuk soal keindahan alam? Semuanya kita punya. Karena Promosi yang kurang gencar, maka jangan kaget bila negara tetangga kita, Malaysia, jauh meninggalkan Indonesia dalam hal pariwisata. Di tahun 2012, kunjungan wisatawan ke Indonesia hanya 8,04 juta orang. Jauh tertinggal dengan Malaysia yang mencapai 24,7 juta orang. Padahal Malaysia dan Indonesia adalah dua negara yang serumpun. Sama kondisi geografisnya, nyaris sama pula budayanya. Lagi-lagi kita kalah di aspek promosi.

Sekali lagi, tidak ada kata terlambat untuk sesegera mungkin berbenah. Kita bekerja bersama. Menyatupadukan semua potensi yang ada. Membangun sinergi untuk mengangkat “Mutiara Pariwisata Wamena” ke permukaan. Lalu memajangnya dan memasarkannya di etalase pariwisata kelas dunia. Kita wartakan kepada dunia, kalau di sini ada sepenggal lembah surga, Wamena namanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar