WELCOME TO MY BLOG ; VICTOR DANY YANENGGA"

Sabtu, 14 Februari 2015

MENGENAL AKAN DIRI SENDIRI

                                                                                                      
   Keindahan  alam Negeriku Papua yang sangat mempesona dan menawan hati setiap mata yang memandangnya, atau orang sering menjulinya Negeri Paradise.


Hingga sampai saat ini, saya melihat kebanyakan orang masih belum memiliki kepercayaan akan diri sendiri. kebanyakan dari kita masih terlalu banyak mencampuri urusan orang lain ketimbang urusi diri sendiri. Kita lebih banyak mengenal karakter orang lain ketimbang mengenal karakter diri sendiri. Menurut saya, inilah yang dikatakan kehilangan akan identitas diri.

Mengapa kebanyakan dari kita tidak bisa mencapai garis akhir dari tujuan hidup kita masing masing ? Saya Memahaminya seperti begini :
1. Kita terlalu banyak menceritakan kejelekan orang lain ketimbang kebaikan yang pernah dilakukannya
2. Kita terlalu sering membangga banggakan orang lain ketimbang membanggakan diri sendiri

Membanggakan diri sendiri itu penting ! Saya tidak katakan kita menyombongkan diri sendiri tapi kita harus memberikan kebanggaan yang sehat bagi diri kita. hal ini sangat penting bagi diri kita masing masing. Karna dari situlah kita dapat menemukan karakter diri kita yang sebenarnya.

Itulah salah satu bentuk kita mengasihi diri kita sendiri. kita bisa mengasihi sesama kita jika kitapun bisa mengasihi diri sendiri. Bagaimana mungkin kita dapat mengasihi sesama kita jika kita tidak dapat mengasihi diri kita terlebih dahulu ? Mustahil
Jadi, pengenalan akan diri sendiri itu jauh lebih berharga ketimbang kita mengagung agungkankan, oh betapa cantiknya artis ini atau artis itu. lebih baik kita mengagungkan Pencipta kita.

Tuhan Yesus sangat mengasihi tong smuanya. Amin.

“ANGIN KURIMA BERHEMBUS, MEMBUAT LEMBAHKU BERGOYANG. PUNCAK GUNUNGMU OH TRIKORA, MEMBUAT MATAKU TAK BERKEDIP.”

Siapa pun yang pernah ke Wamena, akan dibuat berdecak kagum dengan pesona alamnya. Sampai-sampai “membuat mataku tak berkedip”. Wamena, sepenggal keajaiban alam yang Tuhan titipkan untuk kita, dengan seperangkat keindahannya. Kita memang tak punya hamparan laut. Karena letak geografisnya di tengah lembah. Namun, Tuhan tetap memberikan kita kesempatan untuk bisa merasakan suasana pantai berpasir putih. Berkunjunglah ke objek wisata Pasir Putih, satu fenomena alam langka yang ada di dunia. Ingin melihat mumi? Tak perlu jauh-jauh ke Mesir sana. Pergi saja ke Kurulu. Kalau hendak menikmati pesona savana seperti di Afrika, Wamena juga punya. Sesekali susuri jalan Wamena – Walesi. Sepanjang jalan, mata dimanjakan dengan hamparan padang rumput yang bagaikan permadani hijau membentang. Ada juga Danau Habema, Puncak Jayawijaya dengan salju abadinya. Segala rupa keindahan alam itu lengkap di Wamena.

Ini adalah karunia Tuhan yang tidak diberikan kepada semua tempat. Sehingga menjadi tanggung jawab kita untuk mengelolanya dan menjaganya. Terenyuh rasanya bila melihat objek wisata Wamena yang tak seindah masa lampau. Pasir putih tak seputih dulu lagi. Belantara hutan, tidak selebat sepuluh tahun silam. Sungai-sungai, mulai mengeruh airnya. Akibat penambangan pasir dan batu yang kian marak. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat, mulai tergerus arus modernisasi.
Seindah apapun alam Wamena, bila tidak dikelola dengan profesional, semuanya sia-sia belaka. Wamena, bagaikan mutiara yang terpendam. Seindah dan sejelita apapun mutiara itu, bila ia hanya terpendam di kedalaman laut, tidak akan berarti. Tidak akan dilirik. Mutiara, baru akan berarti dan bernilai jual tinggi bila ia diangkat ke permukaan dan ditempatkan rapi di etalase toko perhiasan.

Kita masih harus banyak berbenah, bila berbicara mengenai pengelolaan pariwisata. Setiap tindakan pasti punya konsekuensi. Ingin memajukan pariwisata, konsekuensinya harus berinvestasi yang tidak sedikit. Dan ini bukan seperti proyek pembangunan fisik yang hasilnya bisa terlihat segera. Hari ini kita berbuat, jangan harap esok hari hasilnya sudah tampak. Mungkin perlu masa sepuluh atau dua puluh tahun, untuk memanen hasil yang dirintis hari ini. Wamena tidak akan maju di tangan orang-orang yang selalu berorientasi keuntungan materi, sibuk memoles citra diri untuk mengamankan singgasana kekuasannya. Jadi selain jangka waktu lama, perlu juga orang-orang yang punya jiwa pengabdian, rela bekerja ikhlas memajukan Wamena, khsuusnya sektor pariwisata.
Memang terkesan terlambat, bila hari ini kita baru berpikir untuk mengabarkan pada dunia, bahwa di jantung Papua ada lembah yang mempesona, bernama Wamena. Tapi seperti kata orang-orang bijak, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Lewat tulisan ini, penulis ingin memberikan sedikit buah pikir, sebagai konstribusi sederhana membangun Wamena. Setidaknya ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk bersegera memajukan pembangunan pariwisata di Wamena.

Perlu Penelitian dan Pengkajian

Mengembangkan pariwisata adalah program jangka panjang, sehingga memerlukan rencana strategis yang rapi. Jangan harap, pesona Wamena bisa dikenal semesta dunia, bila masih menggunakan “Manajemen Reaktif”. Tiba masa, tiba akal. Tidak ada perencanaan matang. Untuk itu pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata, bisa membuat sebuah inovasi. Kini di Wamena, sudah menjamur Perguruan TInggi. Dalam melaksanakan fungsinya, Perguruan TInggi harus melakukan tiga aktivitas utama, yaitu: pendidikan, peneltian dan pengabdian masyarakat. Potensi Perguruan TInggi sebagai pengkajian dan penelitian ini, belum termanfaatkan maksimal. Padahal di Perguruan TInggi, banyak intelektual yang siap memberikan tawaran konsep yang inovatif. Apalagi Perguruan Tinggi yang profesional pasti memiliki devisi khusus yang bertugas melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat, sesuai kompetensi keilmuannya. Amat disayangkan jika potensi ini tidak pernah dilirik.

Dalam penetapan berbagai kebijakan publik misalnya, pemerintah daerah masih kurang memanfaatkan potensi Perguruan Tinggi sebagai penyumbang ide dan penggagas konsep. Banyak ide-ide cerdas yang ingin disuarakan oleh intelektual kampus. Tapi mungin karena kurangnya forum bersama antara pemerintah dan Perguruan Tinggi, akhirnya ide para intelektual terpendam begitu saja. Terkhusus untuk pengembangan pariwisata, tentu sebuah langkah maju, bila mengajak para intelektual Perguruan TInggi dan pemangku kebijakan untuk duduk bersama. Merumuskan rencana strategis dan taktis, tentang pengembangan pariwisata di lembah nan indah ini.

Promosi Harga Mati

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah gencarkan promosi. Seindah apapun Wamena, bila tidak dikabarkan kepada dunia, tidak akan ada yang perduli. Maka promosi menjadi hal yang niscaya. Aspek promosi ini yang belum efektif. Memang ada acara tahunan seperti Festival Lembah Baliem. Tapi itu masih terlalu sedikit jika menginginkan pariwisata Wamena dilirik dunia. Ambil misal saja, contoh yang paling sederhana, pemanfaatan dunia maya (baca: internet) untuk mempromosikan pariwisata Wamena, belumlah maksimal. Sejauh pengamatan penulis, belum ada situs resmi pemerintah yang khusus mempromosikan pariwisata Wamena. Padahal internet adalah saluran promosi yang efektif dan relatif murah. Ada 1,86 miliar penduduk bumi yang aktif menggunakan internet. Ini adalah peluang pasar yang menjanjikan.

Jangankan Wamena, untuk skala nasional secara umum, promosi pariwisata masih setengah hati. Padahal apa yang kurang dari Indonesia untuk soal keindahan alam? Semuanya kita punya. Karena Promosi yang kurang gencar, maka jangan kaget bila negara tetangga kita, Malaysia, jauh meninggalkan Indonesia dalam hal pariwisata. Di tahun 2012, kunjungan wisatawan ke Indonesia hanya 8,04 juta orang. Jauh tertinggal dengan Malaysia yang mencapai 24,7 juta orang. Padahal Malaysia dan Indonesia adalah dua negara yang serumpun. Sama kondisi geografisnya, nyaris sama pula budayanya. Lagi-lagi kita kalah di aspek promosi.

Sekali lagi, tidak ada kata terlambat untuk sesegera mungkin berbenah. Kita bekerja bersama. Menyatupadukan semua potensi yang ada. Membangun sinergi untuk mengangkat “Mutiara Pariwisata Wamena” ke permukaan. Lalu memajangnya dan memasarkannya di etalase pariwisata kelas dunia. Kita wartakan kepada dunia, kalau di sini ada sepenggal lembah surga, Wamena namanya.



MAMPIRLAH, DENGARLAH DOAKU

Bukan seberapa pandai Anda berdoa, tapi seberapa tulus tujuan doa Anda.
"Berserulah kepadaKu, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui." (Yeremia 33:3)
Shalom, Selamat Pagi
Selamat Hari Minggu & Selamat Beribadah
TUHAN YESUS Memberkati...

Buchtar Tabuni: saya sedang dikejar oleh polisi dan pasukan militer Indonesia di Papua Barat dan melobi untuk MSG

Buchtar Tabuni: saya sedang dikejar oleh polisi dan pasukan militer Indonesia di Papua Barat dan melobi untuk MSG Buchtar Tabuni adalah Ketua dari Nasional Parlemen dari West Papua (PNWP), di sela-sela kunjungan ke MSG di Vanuatu lobbinya menceritakannya pengalamannya yang berjuang untuk hak untuk menentukan nasib sendiri rakyat Papua Barat.
Pada 15 Oktober 2008, saya memimpin demonstrasi damai secara bersamaan di Papua Barat untuk sukses peluncuran Parlementarians internasional untuk Papua Barat (IPWP) di London.
Sebagai hasil dari rally saya ditangkap oleh polisi di Papua Barat dan dikirim ke penjara selama 4 tahun.
Pada tahun 2009 saya dipercaya oleh teman aktivis sebagai Ketua dari West Papua Nasional Komite (KNPB), yang dinyatakan pada 2009.
Sementara aku berada di para penjarah tapi aku sebagai tindakan bertanggung jawab dilakukan secara bersamaan KNPB perdamaian di sejumlah daerah di Papua Barat di 2009 sampai 2012.
KNPB memfasilitasi pembentukan Parlemen Regional 23 di Papua Barat sebagai wadah politik Barat Papua perjuangan untuk kebebasan di wilayah tersebut.
Pada 5 April 2012 Konferensi Parlemen Regional diadakan di Jayapura untuk menyatakan pendirian dari Nasional Parlemen dari West Papua (PNWP) forum politik nasional 23 Parlemen Regional.
Saya dipercayakan oleh rakyat 23 daerah parlemen sebagai PNWP Ketua dan dibantu oleh tujuh Wakil Ketua.
Dengan pembentukan PNWP ini, kemudian serta bertanggung jawab perjuangan politik di Papua Barat.
Setelah beberapa bulan, saya memimpin PNWP sepanjang KNPB Lanjutkan demonstrasi damai untuk meminta penentuan nasib sendiri rakyat Papua Barat.
Saya ditangkap dan penjara selama 1 tahun lebih atas tuduhan palsu pada beberapa peristiwa di Papua Barat.
Pertengahan tahun 2013 setelah keluar dari penjara, Lanjutkan demonstrasi damai kami di Papua Barat tingkat dan menjelang akhir 2013 saya masuk daftar pencarian oleh polisi dan militer.
Itu telah menjadi tradisi bagi polisi dan militer untuk orang-orang Papua Barat, jika disertakan dalam pencarian daftar berarti bahwa orang-orang ini sedang diburu untuk menembak dan kemudian direkayasa kematiannya.