Siapa pun yang pernah
ke Wamena, akan dibuat berdecak kagum dengan pesona alamnya.
Sampai-sampai “membuat mataku tak berkedip”. Wamena, sepenggal keajaiban
alam yang Tuhan titipkan untuk kita, dengan seperangkat keindahannya.
Kita memang tak punya hamparan laut. Karena letak geografisnya di tengah
lembah. Namun, Tuhan tetap memberikan kita kesempatan untuk bisa
merasakan suasana pantai
berpasir putih. Berkunjunglah ke objek wisata Pasir Putih, satu
fenomena alam langka yang ada di dunia. Ingin melihat mumi? Tak perlu
jauh-jauh ke Mesir sana. Pergi saja ke Kurulu. Kalau hendak menikmati
pesona savana seperti di Afrika,
Wamena juga punya. Sesekali susuri jalan Wamena – Walesi. Sepanjang
jalan, mata dimanjakan dengan hamparan padang rumput yang bagaikan
permadani hijau membentang. Ada juga Danau Habema, Puncak Jayawijaya dengan salju abadinya. Segala rupa keindahan alam itu lengkap di Wamena.
Ini adalah
karunia Tuhan yang tidak diberikan kepada semua tempat. Sehingga menjadi
tanggung jawab kita untuk mengelolanya dan menjaganya. Terenyuh rasanya
bila melihat objek wisata Wamena yang tak seindah masa lampau. Pasir
putih tak seputih dulu lagi. Belantara hutan, tidak selebat sepuluh
tahun silam. Sungai-sungai, mulai mengeruh airnya. Akibat penambangan
pasir dan batu yang kian marak. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat,
mulai tergerus arus modernisasi.
Seindah apapun alam Wamena, bila tidak dikelola dengan profesional,
semuanya sia-sia belaka. Wamena, bagaikan mutiara yang terpendam.
Seindah dan sejelita apapun mutiara itu, bila ia hanya terpendam di
kedalaman laut, tidak akan berarti. Tidak akan dilirik. Mutiara, baru
akan berarti dan bernilai jual tinggi bila ia diangkat ke permukaan dan
ditempatkan rapi di etalase toko perhiasan.
Kita masih harus banyak berbenah, bila berbicara mengenai pengelolaan
pariwisata. Setiap tindakan pasti punya konsekuensi. Ingin memajukan
pariwisata, konsekuensinya harus berinvestasi yang tidak sedikit. Dan
ini bukan seperti proyek pembangunan fisik yang hasilnya bisa terlihat
segera. Hari ini kita berbuat, jangan harap esok hari hasilnya sudah
tampak. Mungkin perlu masa sepuluh atau dua puluh tahun, untuk memanen
hasil yang dirintis hari ini. Wamena tidak akan maju di tangan
orang-orang yang selalu berorientasi keuntungan materi, sibuk memoles
citra diri untuk mengamankan singgasana kekuasannya. Jadi selain jangka
waktu lama, perlu juga orang-orang yang punya jiwa pengabdian, rela bekerja ikhlas memajukan Wamena, khsuusnya sektor pariwisata.
Memang terkesan terlambat, bila hari ini kita baru berpikir untuk
mengabarkan pada dunia, bahwa di jantung Papua ada lembah yang
mempesona, bernama Wamena. Tapi seperti kata orang-orang bijak, lebih
baik terlambat daripada tidak sama sekali. Lewat tulisan ini, penulis
ingin memberikan sedikit buah pikir, sebagai konstribusi sederhana
membangun Wamena. Setidaknya ada beberapa langkah yang perlu dilakukan
untuk bersegera memajukan pembangunan pariwisata di Wamena.
Perlu Penelitian dan Pengkajian
Mengembangkan pariwisata adalah program jangka panjang, sehingga memerlukan rencana strategis
yang rapi. Jangan harap, pesona Wamena bisa dikenal semesta dunia, bila
masih menggunakan “Manajemen Reaktif”. Tiba masa, tiba akal. Tidak ada
perencanaan matang. Untuk itu pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata,
bisa membuat sebuah inovasi. Kini di Wamena, sudah menjamur Perguruan
TInggi. Dalam melaksanakan fungsinya, Perguruan TInggi harus melakukan
tiga aktivitas utama, yaitu: pendidikan, peneltian dan pengabdian
masyarakat. Potensi Perguruan TInggi sebagai pengkajian dan penelitian
ini, belum termanfaatkan maksimal. Padahal di Perguruan TInggi, banyak
intelektual yang siap memberikan tawaran konsep yang inovatif. Apalagi
Perguruan Tinggi yang profesional pasti memiliki devisi khusus yang
bertugas melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat, sesuai
kompetensi keilmuannya. Amat disayangkan jika potensi ini tidak pernah
dilirik.
Dalam penetapan berbagai kebijakan publik misalnya, pemerintah daerah
masih kurang memanfaatkan potensi Perguruan Tinggi sebagai penyumbang
ide dan penggagas konsep. Banyak ide-ide cerdas yang ingin disuarakan oleh intelektual kampus. Tapi mungin karena kurangnya forum
bersama antara pemerintah dan Perguruan Tinggi, akhirnya ide para
intelektual terpendam begitu saja. Terkhusus untuk pengembangan
pariwisata, tentu sebuah langkah maju, bila mengajak para intelektual
Perguruan TInggi dan pemangku kebijakan untuk duduk bersama. Merumuskan
rencana strategis dan taktis, tentang pengembangan pariwisata di lembah
nan indah ini.
Promosi Harga Mati
Langkah lain yang bisa dilakukan adalah gencarkan promosi. Seindah
apapun Wamena, bila tidak dikabarkan kepada dunia, tidak akan ada yang
perduli. Maka promosi menjadi hal yang niscaya. Aspek promosi ini yang
belum efektif. Memang ada acara tahunan seperti Festival Lembah Baliem.
Tapi itu masih terlalu sedikit jika menginginkan pariwisata Wamena
dilirik dunia. Ambil misal
saja, contoh yang paling sederhana, pemanfaatan dunia maya (baca:
internet) untuk mempromosikan pariwisata Wamena, belumlah maksimal.
Sejauh pengamatan penulis, belum ada situs resmi pemerintah yang khusus
mempromosikan pariwisata Wamena. Padahal internet adalah saluran promosi
yang efektif dan relatif murah. Ada 1,86 miliar penduduk bumi yang
aktif menggunakan internet. Ini adalah peluang pasar yang menjanjikan.
Jangankan Wamena, untuk skala nasional secara umum, promosi pariwisata masih setengah hati. Padahal apa yang kurang dari Indonesia
untuk soal keindahan alam? Semuanya kita punya. Karena Promosi yang
kurang gencar, maka jangan kaget bila negara tetangga kita, Malaysia,
jauh meninggalkan Indonesia dalam hal pariwisata. Di tahun 2012,
kunjungan wisatawan ke Indonesia hanya 8,04 juta
orang. Jauh tertinggal dengan Malaysia yang mencapai 24,7 juta orang.
Padahal Malaysia dan Indonesia adalah dua negara yang serumpun. Sama
kondisi geografisnya, nyaris sama pula budayanya. Lagi-lagi kita kalah
di aspek promosi.
Sekali lagi, tidak ada kata terlambat untuk sesegera mungkin berbenah.
Kita bekerja bersama. Menyatupadukan semua potensi yang ada. Membangun
sinergi untuk mengangkat “Mutiara Pariwisata Wamena” ke permukaan. Lalu
memajangnya dan memasarkannya di etalase pariwisata kelas dunia. Kita
wartakan kepada dunia, kalau di sini ada sepenggal lembah surga, Wamena
namanya.